Categories
Info

Tak Percaya Lagi Integritas Hakim

HUKUM kita berada di titik nadir. Publik tak percaya lagi kepada hakim setelah kian banyaknya wakil Tuhan di bumi ini ditangkap sedang menerima suap untuk mengurangi hukuman. Komisi Yudisial mencatat sudah delapan hakim dicokok aparat hukum ketika tengah menerima besel. Itu yang terekspos ke media. Suap yang masih tersembunyi mungkin lebih banyak.

Komisioner Komisi Yudisial banyak menerima pengaduan soal kelakuan tak terpuji para hakim di Indonesia. Kasus terbaru adalah Ketua Pengadilan Negeri Kepahiang di Bengkulu, Janner Purba, yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi pekan lalu. Bersama koleganya, Toton, hakim ini menerima uang Rp 150 juta. Masih ada lagi uang suap Rp 500 juta yang ditemukan KPK di kantor Janner ketika ruangannya digeledah. Tersangka pemberi suap ialah mantan Wakil Direktur Umum dan Keuangan Rumah Sakit Umum Daerah Bengkulu Edi Santoni serta mantan Kepala Bagian Keuangan RSUD Bengkulu Syafri Syafii. Keduanya didakwa melakukan korupsi yang merugikan negara Rp 5,4 miliar.

Perkara disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bengkulu dengan ketua majelis hakim dan anggotanya adalah Janner dan Toton. Dalam jajak pendapat di Tempo.co, 84 persen responden tak lagi percaya hakim di Indonesia berintegritas. Hanya 14 persen yang menjawab sebaliknya dan 1 persen memilih tidak tahu. Betapa bobrok. Laksmi Pamuntjak NOVEL Amba karya Laksmi Pamuntjak meraih penghargaan bergengsi The LiBeraturpreis di Jerman. Penghargaan Lit Prom itu bertujuan mewadahi karya para penulis perempuan The Global South yang suaranya belum terwakili.

Novel Laksmi bercerita tentang tahanan politik Pulau Buru. Malam penghargaan The LiBeraturpreis akan diselenggarakan pada 22 Oktober 2016 di Frankfurt Book Fair. Novel Amba diterjemahkan ke bahasa Jerman dengan judul Alle Farben Rot. Versi bahasa Inggris akan terbit pada Juli nanti di Amerika Serikat dengan judul The Question of Red. l Bank Syariah Mandiri BANK Syariah Mandiri (BSM) menyabet tiga penghargaan bergengsi dari Triple A Islamic Awards-The Asset Hong Kong. Penghargaan tersebut diserahkan pada Jumat pekan lalu di Kuala Lumpur, Malaysia.

Penghargaan The Best Islamic Retail Bank diraih BSM untuk berbagai layanan, seperti Tabungan BSM, Tabungan Mabrur, pembiayaan gadai dan cicil emas, pembiayaan pensiun, serta pembiayaan Griya BSM. Selain itu, BSM memperoleh gelar The Best Islamic Trade Finance dan The Best Islamic Bank of Indonesia. Hingga Maret 2016, layanan tabungan BSM mencapai Rp 24,26 triliun. Market share Tabungan BSM di industri perbankan syariah mencapai 35,66 persen dengan jumlah nasabah lebih dari 6,4 juta.

l Tempo WALI KOTA Surabaya Tri Rismaharini memberikan penghargaan kepada Tempo, Jawa Pos, Radio Suara Surabaya, dan Metro TV. Penghargaan diberikan dalam peringatan hari jadi Kota Surabaya ke-723, pekan lalu. Setiap ulang tahun, Pemerintah Kota Surabaya memberikan penghargaan kepada pelbagai pihak. Tahun ini ada 76 piagam. Tempo dianggap berperan menyebarkan program Pemerintah Kota.

Website : kota-bunga.net

Categories
Info

LOBI KILANG DI KAMAR 777

PERUSAHAAN minyak raksasa Rusia, Rosneft, mengalahkan Saudi Aramco dalam tender proyek pembangunan kilang Pertamina di Tuban, Jawa Timur. Kemenangan ini mengagetkan Aramco, yang yakin memenangi tender itu, terutama setelah Presiden Joko Widodo bertemu dengan Raja Saudi. Sejumlah pihak menilai proses lelang yang dilakukan Pertamina terbilang cepat dan belum tuntas benar. Istilah Cina di Tempo SAHABAT karib saya, Drs Arif Budiwijaya, Bsc, meminta Tempo tak menggunakan istilah ”Cina” dalam suratnya pada edisi 21-28 Desember 2014.

Pensiunan pegawai negeri Universitas Gadjah Mada ini menukil surat keputusan presiden yang berbunyi: ”…maka dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, penggunaan istilah orang atau komunitas Tjina/China diubah menjadi orang atau komunitas Tionghoa dan untuk penyebutan Republik Rakyat China menjadi Republik Rakyat Tiongkok.” Sangat jelas keputusan presiden itu hanya untuk penyelenggara pemerintahan, sehingga secara nalar saya berpendapat bahwa Tempo sama sekali tak melanggar ketentuan hukum ataupun kode etik. Soalnya, jika logika sahabat saya itu diikuti, pecinan harus diubah menjadi petionghoaan.

Padahal di London ada sebutan China Town dan di Belanda ada Chinese Wijk. bahasa Indonesia dalam terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia. Lembaga Alkitab mengubah nama Yahweh menjadi ”Tuhan” dan ”Allah”. Padahal, menurut aturan bahasa Indonesia, nama tak boleh diterjemahkan. Penulisan ”Yahweh” yang benar ada di buku Kitab Suci: Indonesia Literal Translation yang diterbitkan Yayasan Lentera Bangsa.

Yahweh adalah tuhannya agama Kristen yang sama dengan tuhannya Abraham, Ishak, dan Yakob; sama dengan tuhannya bangsa Israel, seperti dijelaskan dalam firman Tuhan di Keluaran 3:15 dan Ulangan 6:4. Setidaknya ada 12 kali Yahweh diterjemahkan menjadi TUHAN, Tuhan, ALLAH, dan Allah dalam Alkitab. TUHAN dan Tuhan atau tuhan menjelaskan nama jabatan yang memiliki arti menerangkan sesembahan dari suatu suku, bangsa, dan agama. Sedangkan Allah atau ALLAH adalah tuhan agama Islam sebagaimana tercantum dalam kalimat syahadat. Saya mohon pemerintah mengeluarkan aturan yang melarang pemakaian nama Allah dan Tuhan bagi umat Kristen pada waktu mereka melakukan ibadah.

Nah mengikuti nasib Tempo dibredel pada zaman Orde Baru. Saya suka Tempo karena beritanya obyektif dan membela kebenaran. Sehubungan dengan berita Tempo akhir-akhir ini yang memojokkan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, saya merasa sangat heran dan kecewa amat dalam. Saya bertanya: ada apa dengan Tempo? Apakah oknum wartawan yang menulis berita itu sudah buta mata hatinya karena sesuatu kepentingan? Saya mengimbau Tempo bermawas diri.

Ingatlah, kebenaran selamanya tidak bisa dibelokkan dan mata hati masyarakat terang-benderang. Polemik Ahok (2) MENGIKUTI diskusi di Tempo tentang ”Ahok dan Reklamasi”, saya jadi paham mengapa ada polemik antara Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dan Tempo, bahwa ada perbedaan tafsir kata ”barter” antara Gubernur dan redaksi Tempo. Kalau mengikuti acara itu, kita juga jadi tahu bagaimana kerja jurnalistik Tempo. Sangat hati-hati agar berita jadi akurat. Setelah ada penjelasan dari Tempo, sebetulnya polemik dengan Ahok tak perlu terjadi. Polemik itu ternyata hanya masalah tafsir pemilihan kata semata. Maju terus, Tempo!