Categories
Parenting

Perlukah Bayi Merangkak Bag2

Berikan Stimulasi

Bila Mama tetap menginginkan bayinya merangkak, Rini mengatakan ada stimulasinya. Ini dilaku kan ketika bayi memasuki usia 7–10 bulan. Stimulasinya sebagai berikut: • Letakkan bayi di atas matras atau lantai yang beralaskan cukup nyaman. Berikan mainan agar ia meraihnya. • Ajak bayi bergerak ke arah depan dengan memanggil namanya atau menaruh benda-benda permainan yang menarik perhatiannya.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

  • Bisa juga me nyembunyikan ma inan di samping atau di belakang tubuhnya. Kadang bayi bergerak ke arah belakang, atau menggunakan perutnya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. • Mama dan Papa juga bisa memberikan contoh merangkak agar bayi meniru nya. Sambil bermain-main, bayi akan senang . Tapi pastikan dulu, keseimbangan motorik tangannya sudah kuat. Kalau belum kuat untuk merangkak, jangan dipaksa.
  • Saat bayi merangkak, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Antara lain jauhkan bendabenda yang mudah pecah atau tajam dari jangkauan bayi. Mama juga perlu mencabut setop kontak agar tak ditarik bayi. Selanjutnya jangan biarkan bayi merangkak pada lantai yang basah atau baru dipel. Apalagi bila menggunakan larutan pel antiseptik, jika tersentuh tangan bayi, ia bisa memasukkannya ke mulutnya. Nah, kini Mama siap mengawasi si kecil merangkak!

Studi Tentang Ibu Dan Bayi

Kesibukan dan kelelahan sebagai seorang ibu dalam mengurus keperluan rumah tangga dan bayi sering membuat kebutuhan akan waktu untuk diri sendiri (me time) menjadi terabaikan, padahal adanya me time penting untuk menjaga “kewarasan” ibu dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Sebanyak 81,4% ibu di Indonesia yang memiliki bayi dan anak di bawah dua tahun (baduta) menganggap penting memiliki me time bagi mereka. Mayoritas ((50,0%) menginginkan me time sebanyak 1–2 jam dalam sehari. Hal ini terungkap dalam studi tentang Ibu dan Bayi 2015 (Moms and Baby Survey – MBS) yang dilakukan oleh Sigma Research Indonesia.

Studi ini juga menemukan, ibu di Indonesia sangat menghargai pekerjaan yang mereka miliki. Sebanyak 54,5% ibu mengaku tidak ingin meninggalkan/keluar dari pekerjaan hanya untuk mengurus bayi mereka, dengan alasan pekerjaan yang dimiliki baik untuk menunjang karier di masa depan. Temuan lainnya mengungkapkan, mayoritas (95,9%) ibu di perkotaan cenderung memberikan produk terbaik untuk kebutuhan anaknya walaupun berkorelasi dengan harga yang mahal. Sebagian besar ibu (37,8%) juga mengaku selalu memberikan produk bermerek bagi anak mereka.

Categories
Parenting

Ketahui Potensi Anak Lewat Multiple Intelligences

Setiap anak pasti memiliki kecerdasan yang berbeda , makanya tak perlu dibandingkan antara satu dengan lainnya. Pakar Pendidikan dari Universitas Harvard, Thomas Armstrong mengatakan, orangtua masa kini seharusnya mengenal teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Teori tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Howard Gardner yang kemudian membagi menjadi delapan jenis kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan matematis), picture smart (kecerdasan spasial), self smart (kecerdasan intrapersonal), body smart (kecerdasan kinetik), people smart (kecerdasan interpersonal), music smart (kecerdasan musikal), dan nature smart (kecerdasan naturalis). “Anak harus mendapat dukungan sesuai dengan apa yang diminatinya, ada anak yang mempunyai beberapa kecerdasan, ada juga yang hanya menonjol di satu bidang.

Yang terpenting jangan memaksa, dukung saja agar bisa membangun kompetensi anak di kemudian hari,” tukas Prof. Dr. Thomas Armstrong dalam talkshow Beda Anak Beda Pintar bersama S-26 Procal Gold Wyeth Nutrition di Hotel Kempinski, beberapa waktu lalu di Jakarta. Cara menemukan sisi potensial yang diminati anak sebetulnya mudah. Orangtua dapat mengarah kan anak untuk memasuki beberapa kursus piano, kursus tari balet, atau kursus bahasa asing. Akan tetapi komunikasi tidak diperbolehkan pu tus, sehingga bisa diketahui apakah anak nyaman atau tidak pada bidang tersebut.

Mengamati perilaku anak juga merupakan hal yang sangat penting, agar minat dapat diketahui dan dapat distimulasi dengan baik. Kemauan orangtua dalam hal menstimulus anak juga harus diimbangi dengan asupan nutrisi yang tepat dan cukup. Pakar Nutrisi Anak, dr. Endang D. Lestari SpA (K) meminta agar orangtua memastikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh anak. Beberapa contoh zat penting yang membantu kemampuan belajar anak, seperti protein, alphalactalbumin, kalsium, dan vitamin D. “Untuk kemampuan kognitif sangat dibutuhkan asupan zat gizi yang baik seperti DHA, AA, zat besi serta Omega 3 & 6,” tambahnya.

Apakah Tumbuh Kembang Anakku Normal?

Sepakat ya Ma, kalau tumbuh kembang si kecil adalah faktor utama yang harus selalu diperhatikan oleh orangtua. Memang, setiap anak memiliki keunikan dan kecepatan yang berbedabeda untuk mencapai perkembangannya. Namun ,ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau tumbuh kembangnya sudah mengalami keterlambatan. Penasaran? Yuk, intip kanal Batita!

sumber : pascal-edu.com